Anjuran Berwirausaha dalam Islam

1. Kewajiban dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.


Allah memilih manusia sebagai wakil Allah di muka bumi atau khalifatullah fil ardhi. Dalam kedudukan inilah manusia bertanggungjawab atas seluruh alam semesta.

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
(Q.S. Al-Baqoroh (2) : 30).

Betulkah manusia lebih penting daripada dunianya ? Apakah matahari, tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan tak ada gunanya kalau tidak ada manusia ?
Manusia memang lebih unggul dibanding makhluk lainnya. Namun, tanpa makhluk lainnya, kehidupan manusia pun tidak akan ada artinya. Kenyataannya, zaman ilmu pengetahuan dan teknologi tidak sepenuhnya menjamin keselamatan dan kesejahteraan manusia. Sebaliknya, manusia terancam hidupnya oleh kepandaiannya. Dengan kerakusan dan kesombongannya, kehidupan manusia makin cepat dalam kebinasaan. Semua ini dikarenakan manusia hanya menggunakan akal dan hawa nafsunya, dan tidak mengambil pelajaran dari firman-firman Allah.
Manusia memiliki keunggulan akal, hati dan nafsu dibanding makhluk lain, namun tanpa bimbingan Allah dan rasul-Nya, manusia bisa lebih sesat daripada binatang, sebagaimana dinyatakan Allah,

" Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."
(Q.S.Al-A’raf (7) : 179).

Karena itu, marilah kita mengubah cara berpikir kita. Yakni, merubah cara pandang yang mentahtakan manusia di atas alam. Sebab meskipun manusia sebagai khalifatullah, namun manusia hanyalah sebagai pemegang amanat Allah.
Kita perlu merubah perilaku dan mengedepankan akhlak lingkungan. Yakni janganlah mementingkan diri sendiri, tetapi taatlah kepada hukum alam dan mengutamakan kemaslahatan umum.
Kalau mau menguasai alam, kita pun harus tunduk kepadanya. Kita harus berkawan dengan lingkungan dan menghargai semua jasa-jasa alam kepada kita. Dengan demikian, kita wajib menempatkan diri sebagai bagian dari lingkungan. Bukan sebagai penguasa mutlak, sebab yang berkuasa mutlak adalah Allah, sehingga kita pun harus tunduk pada kehendak Allah. Kita bukanlah raja bagi alam semesta. Ketahuilah raja sesungguhnya adalah Allah SWT.
Ingatlah, Allah menciptakan alam semesta ini dengan seimbang. Namun oleh sebab manusia berbuat sewenang-wenang, tidak taat hukum, dan mementingkan diri sendiri, alam menumpahkan amarah dengan berbagai bencana.


"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?"
(Q.S. Al Mulk(67):3)

Marilah kita melaksanakan kewajiban sebagai "wakil Tuhan" di muka bumi dengan mengolah dan memanfaatkan bumi dengan sebaik-baiknya, agar bumi yang kita tempati ini memberikan kemakmuran, kesejahteraan dan kenyamanan dalam hidup kita semua

2.Antara kewajiban manusia sebagai khalifah dengan anjuran berwirausaha.

Dikatakan bahwa setiap orang wajib mencari rezeki yang telah disebarkan Tuhan. Tidak akan sempurna ibadah seseorang manakala tidak bekerja di dalam dunia. Dengan kewajiban ini, Allah menunjukkan bahwa jika manusia tidak mencari rezeki, maka ia tidak akan menemukannya. Jika tidak menanam, maka kita tidak akan memanen. Dan janganlah merasa bahwa apa yang diperoleh di dunia ini semata-mata karena usaha kita, sebab sesungguhnya Allah Maha Menghendaki dan Berkuasa atas makhlukNya.[5]
Para Nabi adalah orang paling tunduk dan patuh dengan ketentuan Allah SWT. Sebagai contoh, Nabi 'Isa bekerja sebagai tukang kayu dan para sahabatnya ada yang bekerja sebagai tukang membuat tenda. Mereka bekerja dengan semangat yang tinggi, sebab di kalangan Bani Israil diajarkan bahwa "menganggur adalah sebuah kejahatan," sehingga pekerjaan remeh apapun tetap dikerjakan sepanjang tidak melanggar syari'at Allah.
Setiap manusia, sekalipun seorang Nabi tidak mengharapkan rezeki turun begitu saja dari langit. Dengan tindakan ini, para Rasul menyadarkan manusia bahwa barangsiapa yang tidak bekerja jangan berharap apapun dan jangan menuntut upah.[6]
Bahkan telah banyak disebutkan tentang keteladanan Rasul SAW dalam bekerja, sejak kecil beliau telah terlatih sebagai seorang yang mandiri, dan tidak dapat disanggah lagi bahwa beliau merupakan pekerja yang tekun dan jujur.
Rasulullah SAW bersabda :

"Mencari rezeki yang halal, wajib bagi setiap orang Islam."

“Sesungguhnya makanan yang paling baik bagimu adalah yang diperoleh dari hasil usahamu, dan sesungguhnya makan yang terbaik bagi anak-anakmu adalah dari hasil usahamu (HR. Ibnu Majah)."

Lukman al Hakim telah menasehati anaknya : "Wahai anakku, cukuplah dirimu dari fakir dengan usaha yang halal. Sesungguhnya orang yang fakir akan ditimpa tiga hal : perbudakan dalam agamanya, kelemahan dalam akalnya dan kehilangan harga dirinya."
Umar ra berkata :"Janganlah salah seorang diantaramu menganggur seraya berkata Wahai Allah berilah kami rezeki. Padahal kamu sekalian mengetahui bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan perak."

Ibnu Mas'ud juga berkata :"Sesungguhnya saya benci melihat seorang laki-laki menganggur, tidak pada urusan dunianya dan tidak pada urusan akhiratnya."

Ucapan orang-orang salih ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan agar orang bekerja keras guna menjaga agama dan harga dirinya. Para salafussalih menganggapnya sebagai bencana dan kebodohan manakala kaum muslimin malas, tidak mau berusaha dan bekerja mendapatkan rezeki yang halal.
Kesempurnaan ibadah dicapai manakala kerja sebagai ibadah menjadi landasan kita semua. Jika kaum muslimin tidak memperhatikan masalah-masalah seperti pertanian, peternakan, perdagangan, kesehatan, industri dan sarana parasarana dunia lainnya, maka kaum muslim akan berada dalam kelemahan baik keluarga, masyarakat, agama maupun bangsa dan Negara. Karena akidah kaum muslimin lemah, akan tergelincir ke dalam kemaksiatan dan kekufuruan.
Oleh karena itu, kaum muslimin harus memperkuat agama dan iman serta meningkatkan harkat dan martabat hidup keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Allah berfirman :

"Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Q.S. Hud:6).[7]

 Dalam pembahasan sebelumnya telah dipaparkan, dimana manusia diciptakan di bumi sebagai wakil Tuhan untuk merawat dan memakmurkannya,  sebenarnya hal demikian demi keberlangsungan hidup mereka sendiri yaitu upaya memperoleh kesejahtaraan dan mempertahankannya.
Untuk sebuah kesejahteraan, di dalamnya sangat diperhitungkan tentang seberapa usaha manusia untuk mencapainya, tentunya didukung oleh usaha yang terus menerus serta tekun dan fikiran yang positif dan optimis serta do’a.

Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa seseorang hanya akan memperoleh hasil prestasi sesuai usaha yang dilakukan. 
Dan bahwasanya tidaklah seorang akan memperoleh melainkan dari apa yang telah diusahakan. Dan ia nanti akan melihat hasil dari apa yang diusahakan . (QS.An-Najm 39-40)

Juga dalam al-Quran Surat Al-Isra` dinyatakan :
Katakanlah : "Tiap-tiap orang hendaknya berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.
(Termasuk dalam pengertian Keadaan disini ialah tabiat dan pengaruh alam sekitarnya.)

Dalam ayat Al-Quran telah dinyatakan secara tegas agar umat manusia bekerja dengan sepenuh kemampuan, serta agar bekerja sesuai pokok profesi masing-masing, yang pada akhirnya akan menjadi manusia yang berbeda dengan manusia yang tidak bekerja.
Pada hadits lain dijelaskan, bahwa pekerjaan paling baik bukan terletak pada nama dan jenis pekerjaannya, bukan pula pada jumlah gaji atau penghasilannya, tetapi asalkan itu pekerjaan oleh tangan atau usaha sendiri. Dan dengan cara itu ia menghidupi dirinya sendiri. Jadi, yang dimaksud dengan pekerjaan yang paling baik disini mengarah kepada keutamaan (fadliah) dari usaha atas dasar kekuatan dari  tangan sendiri. [8]
Di sinilah mungkin dapat difahami, bahwa manusia sebagai khalifah yang dipercaya oleh tuhan untuk merawat bumi ini dengan mengolah dan memakmurkannya mempunyai kewajiban untuk mengusahakan bagaimana kemakmuran dapat dicapai, di antara usaha yang diharapkan adalah dengan bekerja dan sebaik-baik pekerjaan adalah dengan berwirausaha.
“ Tiada seorang makan makanan yang lebih baik dari pada seorang yang makan dari hasil usaha tangannya sendiri.[9]


3.    Anjuran berwirausaha dalam agama Islam

Nabi Muhammad SAW mengalami kehidupan seperti manusia umumnya, yakni bekerja mencari nafkah. Bahkan sejak muda beliau telah bekerja guna menghidupi dirinya dengan menggembala domba dan berdagang. Apa yang dilakukan Nabi SAW sama sekali tidak mengurangi kemuliaannya, justru sebaliknya menjadi teladan bagi kita semua bahwa setiap orang berkewajiban mencari nafkah. Semua ini adalah untuk memanfaatkan tenaga dan pikiran yang telah dikaruniakan Allah.
Dengan bekerja, orang mendapatkan upah. Upah ini dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Disamping itu untuk menjaga harga diri manusia. Olah karenanya Allah menghargai setiap orang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak peduli hasil yang diperoleh sedikit atau banyak, Allah SWT menetapkannya sebagai kebajikan asalkan usahanya dilakukan dengan cara halal.
Di dalam kisah kenabian Muhammad SAW disebutkan bahwasanya suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Tampak dari serambi masjid, seorang pemuda yang gagah perkasa sedang berangkat kerja, padahal hari masih sangat pagi. Seorang sahabat berkata,
" Aduh sayangnya pemuda ini. Kalau saja kemudaannya digunakan untuk jihad di jalan Allah pasti lebih baik."

Rasulullah kemudian besabda :
"Janganlah berkata begitu. Sesungguhnya orang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari meminta-minta dan mencukupkan diri dari orang lain, maka ia jihad fi sabilillah. Dan barangsiapa yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup kedua orangtuanya yang lemah atau sanak keturunannya yang lemah, agar dapat mencukupi kebutuhan mereka; maka ia pun jihad fi sabilillah. Dan barangsiapa yang bekerja untuk membangga-banggakan diri dan menumpuk-numpuk kekayaan, maka ia berada di jalan syetan." (HR. Thabrani dari Ka'ab)

Melalui sabda ini Rasulullah SAW memberikan penghargaan kepada setiap orang yang mau bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, sesuai dengan syari'at Islam, tidak untuk membangga-banggakan diri dengan kemewahan atau menumpuk-numpuk kekayaan dengan menggunakan segala cara, maka ia adalah seorang mujahid fi sabilillah. Sebaliknya orang yang bekerja hanya untuk menumpuk-numpuk kekayaan, tanpa zakat, infak, sedekah dan dipergunakan untuk menuruti hawa nafsu atau egosentrisme sendiri, digolongkan dalam jalan syetan.[10]
Kita bisa mengambil I’tibar dari beberapa Nass Al-Quran dan Hadits, dimana Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan pekerjaan di dalam berbagai bidang, diantara yang disebutkan sebagai berikut :

1.           Bidang Agribisnis
a.    Pertanian dan Perkebunan
“ Tiada seorang muslim yang menabur benih atau menanam tanaman,lalu seekor burung seorang manusia atau seekor hewan ikut makan dari sebagian dari hasil tanamannya, melainkan akan dinilai sebagai sedekah baginya.”  (HR. Bukhori)

Sektor agribisnis yang kedua terdapat tiga kategori dalam sektor perkebunan ini yaitu perkebunan buah, bunga atau tanaman hias, obat-obatan, bahkan perkebunan murbei untuk ulat sutra bisa dilakukan.
Buah-buahan merupakan salah satu unsur makanan yang selalu dibutuhkan orang, dikonsumsi untuk memenuhi standar gizi. Hampir setiap orang baik masyarakat kecil maupun kalangan elit, selalu memerlukan buah untuk pelengkap makanan pokok.

b.   Peternakan
Usaha dibidang peternakan penuh dengan dinamika dan penuh dengan tantangan sehingga perlu penanganan khusus, karena yang dihadapi adalah makhluk hidup yang bergerak dan tentu mempunyai kekhasan masing-masing.
Dalam Al-Qur'an banyak ditemukan ayat-ayat yang mengisyaratkan umat Islam untuk beternak, diantaranya dalam Surat Thoha: 54:
“ Makan dan Gembalakanlah binatang ternakmu! Sesungguhnya dalam hal itu, terdapat ayat-ayat bagi yang mempunyai pikiran."

c.    Perikanan
Kebutuhan protein dalam tubuh manusia salah satunya dapat terpenuhi dengan mengkonsumsi ikan. Kandungan protein yang cukup tinggi menjadikan ikan sebagai pilihan utama menu makanan sehari-hari bagi masyarakat.

Dalam ayat Al Qur'an mengisyaratkan agar umat Islam menggali dan memanfaatkan lautan, untuk memperoleh rizki darinya, sebagaimana dengan firmannya dalam Al Qur'an Surat An-Nahl : 14:
"Dan Dialah (Allah) yang memudahkan lautan supaya kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar, dan kamu keluarkan darinya hiasan (mutiara) yang kami pakai, dan kamu lihat kapal-kapal berlayar padanya, agar kamu memperoleh rizki (karunianya) dan agar kamu bersyukur." [11]

2.           Bidang Produksi
a.    Seruan Pengadaan pangan Berkualitas
 “ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan…” (al-Baqoroh : 168)

b.   Seruan Pengadaan Pakaian Berkualitas
“ Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan…” (al-A’raf : 26)

3.      Bidang Jasa
a.    Jasa Transportasi
“Dan ia (binatang itu) mengangkat beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya melainkan dengan kesukaran-kesukaran yang memayahkan diri. Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bighal, dan Khimar agar kamu menungganginya…” (an-Nahl 7-8)

b.   Pencerdasan Umat
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memeperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan memberi peringatan kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”(at-Taubah : 122)

c.      Kedokteran dan Pengobatan
“…Dari perut itu keluarlah minuman (madu) yang bermacam macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-nahl : 69) 

4.          Perdagangan
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (al-Baqarah : 275)  [12]

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Burdah bin Niyar, Rasulullah SAW bersabda :
“Seutama-utama usaha penghasilan itu ialah jual beli yang jujur, dan penghasilan yang didapat dari pekerjaan tangan sendiri. (H.R. Ahmad dan Atthabrani)

Meriwayatkan pula Albaihaqi dari hadits Mu’adz RA, bahwa Rasulullah bersabda :
 “Sesungguhnya sebaik-baik hasil usaha, ialah kasab usaha pedagang, yang bila bicara tidak dusta, dan bila dipercayai tidak khiyanat, dan bila janji tidak cedera (menyalahi), dan bila membeli tidak mencela, dan bila menjual tidak memuji-muji barangnya, dan bila berhutang tidak memperlambat, dan bila menagih hutang tidak mempersukar.”

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim juga Ibn Majah bahwa Ibn Umar RA berkata, Nabi SAW bersabda :
“ Pedagang yang amanat, yang jujur (benar) yang muslim, kelak dihari kiamat akan berkumpul dengan Syuhada` (orang-orang yang mati syahid)[13]

Marilah kita berdo’a semoga kita diberikan hidayah untuk memahami dan mengambil I’tibar dari ayat-ayat Nya, dan kita diberi ma’unah untuk mengerjakan tugas dan kewajiban kita, serta mengamalkan setiap ilmu yang kita terima di dunia ini, Amin.

Sun, 27 Jan 2013 @00:10


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 3+5+0

 

Don't miss it

 

SLINK

RSS Feed

Copyright © 2014 bony & partners · All Rights Reserved